Showing posts with label Kehidupan. Show all posts
Showing posts with label Kehidupan. Show all posts

Thursday, September 2, 2010

Taraweh

Hari ini, seorang Arab dijemput menjadi Imam Taraweh di Masjid Paka tempat di mana saya biasa solat fardhu.

"Fadhlan minallahi wan ni'mah" tidak kedengaran usai 2 rakaat pertama solat Taraweh. Orang di sekeliling saya kebingungan bila imam terus bangkit untuk menyudahkan 2 rakaat yang seterusnya. Saya sendiri berasa kekok.

Semasa di New Zealand, itu fenomena biasa. Bila diselidiki, memang tidak dijumpai nas yang kuat membicarakan perihal berselawat bagi mengisi sela masa antara 2 solat taraweh. Ia merupakan inisiatif orang Malaysia mungkin untuk menyempurnakan sunnah berehat sebentar antara 2 solat dengan diisi alunan zikir serta selawat kepada junjungan mulia Muhammad S.A.W.

Salahkah berbuat demikian? Wallahua'lam..

[ ... ]

Tuesday, April 6, 2010

Comfortable

Why do some people work hard from one day to another?
Why do people venture into big businesses?
What are we expecting when buying a decent building to be owned as our home?

If we think deeply about it, the different guessing that we have is actually rooted from a single reason. So that we can live more comfortably.

Once we have the experience of living in a very comfortable condition, most of us will rather fight than letting that "feeling" go. Hence, you will always find people who are already rich, will work their way to become richer.

I have no problem with this. In fact, if being rich can bring us closer to Allah, some scholars said we should not let it go.

There are some cases where people are willing to let go of all their wealth because they just experienced their spiritual awakening and straight away thought that becoming less rich is more favourable by The Almighty (the act of becoming a Zuhud person). This is not particularly true.

Ibn Taimiyah once said, Zuhud is the act of letting go things that does not bring us any benefit in the hereafter. While those that benefit us, should be sustained as much as possible. Experience tells us that usually, these things are not in our favor. For example, we can be a billionaire. No problem. But, those wealth that we have should not be kept for our usage only. It should be spent for the benefit of others and more holy if this is done in the name of Allah and Islam.

Hence, it is our call now. As human, we are not who we think we are, but we are who we choose to be. If we choose to live a life of comfort, we could probably die as a mediocre homosapien that does not contribute to the betterment of this world. However, if we choose to live a life of sincere contribution, the reward that is waiting for us is tremendous.

Let us have more understanding and faith about the unseen future so that we will not suffer then.

Qul Aamantu billah, thum mastaqim..


[ ... ]

Friday, March 26, 2010

Frustrated

It felt very frustrated when you cannot get what you always wanted in life. It really does. Look at kids who are not allowed to play with toys simply because their parents cannot afford to buy one. They would feel very sad, not because the fact that their parents are having financial problems. They're sad because they cannot get to play with the toys that they desire.

We would think this is very childish. We think that we would feel differently if we are adults and having to face the same situation. As for me, I don't think so. We shouldn't take the case with the kids and their toys directly. For our case, it is extravagantly complicated.

As adults we are not looking for toys to make us happy. There are other things. Getting married, having a lot of money in our pockets, going for luxurious vacations, having dinner at exclusive restaurants and what not. These are our toys. Some are more important than the others. Some might be considered as needs while the rest are our desires.

When there are things that could block you from your way to achieve what you desired, you will directly be frustrated. And, that will be the perfect time to play "blaming others" game. It seems right to blame everyone in this whole wide world other than ourselves for the thing that we are going through. This is true since I am having the same problem myself. For example, when our car tire was punctured because we ran over a hole on the street, we will firstly blame either the tire or the street and not ourselves who obviously having the control of our car in our hands. We might play the blaming game as far as with the government who is responsible to make sure the street is a safe place to drive on.

However, things are far more complicated than what I can give you in my example. Sometimes, even we have no control with the situation that we have to face. Blaming others will not help even a little. Blaming ourselves will not shrink the issue as well. What then?

Let's ask the Almighty to help us see the hikmah behind every test that He puts upon us every single day. I'm very sure, nothing happens in this world but with a reason. A reason that could transform us to become a better person.


[ ... ]

Saturday, August 8, 2009

Fitrah yang payah


Raihan - Kita Hamba - Raihan

Sesungguhnya, Allah tidak akan mengubah nasib sesuatu kaum sehinggalah mereka mengubah nasib mereka sendiri. (ar-Ra'd:11)


No man can sincerely try to help another without helping himself (Ralph Waldo Emerson)


Menghadapi perubahan fasa hidup merupakan sesuatu yang agak menyakitkan. Semasa kanak-kanak, kita tidak perlu fikir dan mungkin tidak faham pun apa itu tanggung jawab. Bahkan kita terbebas dari sebarang dosa. Namun didikan yang kita terima pada waktu itu sangat penting untuk menentukan keadaan kita bila telah dewasa.


Bila masuk sahaja usia akil baligh, maka kita tidak boleh bersikap sepertimana seorang kanak-kanak yang innocent lagi. Pada waktu ini, kita akan terdedah kepada 1001 macam pilihan yang sama ada akan membawa kita ke daerah penuh kebahagiaan atau ke lembah penuh kemusnahan.


Sekiranya betul cara kita dididik semasa kecil, maka mudahlah kita mencari jalan bahagia. Namun mudah juga untuk tergelincir daripadanya. Sebaliknya pula yang berlaku kepada mereka yang menerima didikan salah atau sesat semasa kecil. Jalan bahagia yang saya maksudkan ialah jalan fitrah Tauhid kepada Allah.


APA YANG PAYAH?

Bila menyebut fitrah, kita membayangkan sesuatu yang mudah kita terima. Sebagai contoh, fitrah manusia adalah perlu makan dan minum untuk terus hidup. Maka, manusia tidak perlu buat kajian hingga ke tahap PHD untuk membuktikan hal ini. Sejak lahir lagi kita sudah tahu. Contoh lain, bila berinteraksi, kita suka bila berhadapan dengan seorang yang manis wajahnya, murah dengan senyuman dan sopan tutur katanya. Itu fitrah manusia yang suka pada kelembutan. Biarlah dia seorang general perang sekalipun.


Namun ada satu fitrah yang sukar kita faham dan sukar kita ikut. Di alam pekerjaan, pekerja baru atau orang-orang bawahan hormat pada bos masing-masing kerana pangkatnya yang lebih tinggi. Hormat juga kerana pengetahuan dan keperibadian mereka yang lebih baik. Ini juga fitrah manusia. Dia akan patuh kepada kuasa yang berada di atasnya selagi mana kuasa itu masih layak dihormati dan diberi taat setia.


Di kala manusia berebut-rebut menunjukkan taat setia kepada raja, perdana menteri, CEO, ketua-ketua jabatan, pengurus-pengurus ataupun para penyelia, mereka terlupa untuk tunduk setia secara total kepada Tuhan mereka.


Tuntutan tunduk patuh kepada Allah adalah satu fitrah, namun pada saya ia sangat sukar dicapai. Mereka yang tidak percaya terus akan kewujudan Tuhan sudah tentu menolak mentah-mentah idea ini. Mereka sanggup menghamba diri kepada nafsu, manusia serta sains daripada meletakkan daya usaha ke arah mencari kebenaran Pencipta. Oleh itu, saya suka untuk kita kecilkan skop perbincangan kepada fenomena yang berlaku di kalangan umat Islam sahaja. (Payah sikit nak bincang dari sudut orang atheist atau agnostic ni. Ego depa tinggi sangat!)


Umat Islam percaya akan kewujudan Allah. Namun keyakinan dan pemahaman mereka terhadap konsep ketuhanan ini tidak cukup konkrit. Ramai orang Islam yang hanya bersangka-sangka sahaja. Mereka sangka mereka akan masuk syurga kerana sudah percaya kepada Allah. Mereka sangka dosa-dosa pula akan terampun sejurus melakukan solat biar tidak beserta khusyuk pun. Kepercayaan yang tidak kuat inilah yang sedikit-sedikit menarik kita daripada ketaatan dan mendekatkan kita dengan maksiat.


TUNDUK PATUH SEPENUHNYA

Memang sukar untuk mencapai tahap ini dalam keadaan kita yang tidak mampu melihat Allah dan tidak duduk bersama-sama Rasulullah. Beriman atas perasaan dan ikut-ikut oranglah yang membuat umat Islam losers dari zaman kejatuhan Islam sampai sekarang. Kita perlu menghambakan diri sepenuhnya hanya kepada Allah untuk mencapai fitrah yang payah namun paling penting ini.


Sukar untuk kita menghambakan diri selagi kita tidak merasa diri kita kecil. Susah untuk tunduk selagi kita tidak sedar yang kita lemah. Susah untuk patuh selagi kita tidak tahu yang kita memerlukan. Semua kesedaran ini hanya akan wujud bila kita ada ilmu. Ilmu yang kita boleh perolehi tanpa perlu ke university. Ilmu yang boleh diperoleh bila merenung alam, membaca al-Quran dan al-Sunnah (dalam keadaan beriman penuh kepada kebenaranNya), bersama mereka yang soleh, membaca hasil tulisan mereka yang terbukti imannya dan lain-lain.


Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Yang mencipta manusia dari segumpal darah (al-'Alaq: 1-2)


Namun bila benar-benar sudah menerima fitrah keTauhidan Allah ini, maka segala masalah kita akan selesai dengan mudah. Sukar. Memang sangat sukar untuk mencapainya.


Saya masih berusaha ke arahnya. Anda bila lagi?

[ ... ]

Saturday, August 1, 2009

Fikir-fikir

Berfikir Mambuahkan Hasil. Betul ke?

Kalau tidak mambuahkan hasil sekalipun, ia memberi jalan kepada penghasilan. Bergantung kepada kerajinan kita pula untuk memulakan langkah.

Setiap hari, boleh jadi 100 orang melakukan aktiviti yang sama namun menghasilkan output yang berbeza-beza. Ada yang lebih berjaya daripada yang lain.

Setiap seorang manusia di atas muka bumi ini pula melakukan aktiviti yang lebih kurang sama setiap hari, namun menghasilkan output yang berbeza-beza hari demi hari. Ada yang esoknya semakin berjaya. Ada yang semakin kecundang. Ada yang terus teguh di takuk yang sama.

Apakah yang mewujudkan perbezaan di sebalik persamaan-persamaan ini?

Pada saya, salah satu daripadanya ialah sejauh mana seseorang itu memasukkan nilai-nilai intelektual ke dalam sesuatu perbuatan sebelum melakukannya. (Aduhai, susah betul nak faham statement ni?!?)

Sebahagian manusia selesa melakukan sesuatu kerana mengikut orang lain (Yang ni tak baik) . Sebahagian lain pula buat ikut suka hati dan nafsu serakah (Yang ni lagi la tak baik). Pada saya, yang terbaik ialah mereka yang berfikir akan hasil serta kesudahan untuk suatu tindakan sebelum mereka lakukan apa pun jua (Thumbs up!).

Mengikut secara membuta-tuli sesuai untuk kanak-kanak sahaja. Mereka memang tidak cukup matang untuk duduk dan fikir panjang-panjang. Sebagai contoh, kanak-kanak tahu untuk ke seberang jalan, mereka perlu berjalan terus melintasi sebatang jalan raya. Mereka tahu ini akan berjaya kerana biasa nampak ramai orang melakukannya di sekolah, di rumah, dalam tv dan di tempat-tempat lain. Oleh itu, bila mereka perlu menyeberangi jalan, mereka tidak kisah pun untuk toleh ke kiri dan ke kanan sebelum melintas jalan. Mereka tidak terfikir lasngsung apa yang akan berlaku sekiranya mereka dilanggar kenderaan. Apa yang mereka tahu, jalan terus dan mereka akan sampai ke seberang.

Buat ikut suka pula hanya dilakukan mereka yang pendek akalnya. Tidak mahu berfikir dan merasa yang mereka akan mengalami sesuatu yang sangat pahit bila tiba masanya. Sebagai contoh, orang yang merokok tahu akan kesan jangka masa panjang rokok. Tetapi kerana mahukan rasa "sedap" pada waktu itu, mereka tidak kisah walau penyakit kanser paru-paru yang menanti di hadapan.

Golongan akhir ialah mereka yang sanggup bersusah-susah berfikir, merenung, merujuk dan meminta nasihat orang yang lebih baik sebelum melakukan sesuatu. Manusia adalah makhluk yang kaya dengan pilihan. Apabila berhadapan degan sesuatu, anda bebas memilih apa tindakan yang sesuai. Jika anda bijak, anda tidak akan terburu-buru mengikut orang lain atau perasaan semata-mata.

Oleh yang demikian, fikirlah sebelum keputusan diambil. Peruntukkan masa untuk itu. Kurangkan masa berfoya-foya.

p/s: Pesanan ini ikhlas untuk diri saya sendiri.
[ ... ]

Tuesday, June 2, 2009

Optimis

Seorang yang optimis sering juga dikenali sebagai manusia yang kuat bermimpi. Sifat relistik lah yang menjadi musuh ketat si optimis ini. Namun, saya tidak bermaksud menyebelahi mana-mana. Malahan kedua sifat ini tidak sempurna jika hanya wujud sendirian.

Sifat optimis yang keterlaluan akan menyebabkan seseorang kuat berangan-angan. Ini akhirnya tidak membawa kepada apa-apa hasil kerana dia sendiri tahu bahawa semua yang diimpikannya sekadar duduk in his dreams.

Sifat realistik yang keterlaluan juga menjadi punca kepada pelbagai masalah. Orang seumpama ini tidak menaruh harapan pada kejayaan dan hanya nampak titik kelemahan sahaja atas sesuatu perkara. Hasilnya, dia akan terus bersifat rendah diri dan redha menjadi manusia yang tewas sampai bila-bila!

Jadi, bagaimana untuk mengimbangkan kedua-dua sifat ini? Perlu kepada pecahan 50% optimistik dan selebihnya realistik kah?

Secara peribadi, saya berpendapat peratusan keperluan kedua-dua sifat ini akan berubah mengikut keadaan dan masa. Sementara masih muda ini, biarlah sifat optimistik yang menjadi majoriti. Bukan apa, pada usia mudalah kita punya cukup tenaga untuk meraih impian-impian yang tinggi menggunung tetapi achievable mengikut keupayaan masing-masing.

Kalau ditanya pada saya, saya sendiri sukar menentukan apakah bentuk impian yang boleh dicapai oleh tulang 4 kerat ini. Sehingga ke hari ini saya masih mencari-cari, apakah agaknya mimpi yang selayaknya saya ada? Teori-teori banyak tertulis dalam buku-buku motivasi. Tetapi bila masuk bab mengaplikasikan teori, saya sendiri tumbang tewas.

Bila sudah dapat formulanya nanti, akan saya kongsikan dengan semua insyaAllah.

[ ... ]

Saturday, November 8, 2008

Cikgu oh cikgu

Kami masih lagi berada dalam musim demam exam. Ada yang dah sembuh (sebab dah habis). Ada yang berehat sekejap (contohnya saya). Ada pula yang sedang bertungkus-lumus menghadamkan nota-nota yang disimpan semenjak mula semester 2 beberapa bulan lepas. Macam-macam perangai..

Apa-apa pun saya ingin mengucapkan sekalung tahniah buat sahabat saya yang sudah berjaya bergelar doktor. Doktor Azri Bin Fikry. Saya tumpang gembira dengan kejayaan anda. Kepada yang bakal menjadi jurutera, guru, akauntan, ahli ekonomi dan sebagainya, teruskanlah usaha anda. Garisan penamat sudah tidak jauh dari capaian kalian.

garden fence - coloursplash

Berat sungguh rasanya bila mahu menulis. Berhari-hari saya fikirkan, apa yang mahu saya tuliskan untuk entry blog yang terbaru ini. Bermacam-macam jenis buku dan blog saya baca, namun masih kebuntuan. Berita pun ada pelbagai. Kemenangan Barack Obama salah satu daripadanya. Cukuplah liputan ribuan jenis berita yang rata-ratanya menyatakan betapa bersejarahnya Pilihanraya US kali ini. Tak perlu saya tambah lagi rasanya.

Menuntut Ilmu lalu menyampaikan

Payahnya menulis kalau hendak dibandingkan dengan membaca. Menulis boleh jadi mudah seandainya hasil tulisan itu penuh kata-kata kosong yang tidak menjana pemikiran. Begitulah juga kisahnya dengan mereka yang cuba menyampaikan ilmu buat orang lain. Seandainya apa yang disampaikan itu tidak membawa apa-apa harga yang signifikan ke arah pembentukan diri dan mentaliti, maka elok sahaja si penyampai menilai kembali apa yang telah disampaikannya. Memang mudah berkata-kata kosong.

Ini membawa saya mengenang zaman persekolahan saya. Zaman remaja saya habiskan di Sekolah Menengah Agama Persekutuan Labu (1998 - 2002). Banyak kenangan pahit dan masin yang saya lalui sepanjang lima tahun persekolahan. Yang manis pun ada, hehe. Suasana sekolah yang "unik", kawan-kawan yang "best" serta cikgu-cikgu yang "caring".

6545

Pembelajaran di kelas boleh jadi sangat menarik dan boleh pula jadi sangat me"mengantukkan". Memang lumrah remaja yang mudah bosan. Saya tidak berhasrat untuk mengutuk atau menghina mana-mana guru. Saya cuma mahu guru atau bakal guru yang membaca entry ini mengkaji kembali prestasi sistem pengajian sekolah-sekolah di Malaysia. Tulisan kali ini adalah hasil pemerhatian saya dalam kuliah-kuliah yang saya hadiri di sini lalu saya kaitkan dengan dunia persekolahan saya.

Ramai guru yang masuk ke kelas dan sekadar menulis nota di atas papan hitam sahaja. Murid yang rajin sudah pasti akan menyalin nota-nota ini sepenuhnya. Yang rajin separuh akan salin separuh. Yang malas pula tidak peduli untuk menyalin terus walau sebilah huruf. Guru-guru seperti ini pada pendapat saya hanya berminat menghabiskan syllabus sahaja. Pada mereka, objektif sudah tercapai sekiranya syllabus berjaya dimuntahkan kepada pelajar tanpa mengira sama ada mereka faham atau tidak. Saya harap saya tidak berkasar sekiranya guru-guru sebegini saya katakan tiada matlamat dalam mengajar.

Mukai_Hiro_057lr

Ada pula guru yang sangat prihatin dengan kecemerlangan prestasi akademik anak murid. Guru seperti ini lebih baik. Mereka ada rasa tanggungjawab terhadap anak didik mereka. Namun masih ada sedikit kekurangan. Kadang-kadang perihatinnya mereka adalah kerana mahu menaikkan nama baik sekolah atau mahu dilihat sebagai guru cemerlang agar di kemudian hari mudah untuk naik pangkat. Guru sebegini mempunyai matlamat dalam kerjaya mereka cuma matlamat itu kurang tepat pada pandangan peribadi saya.

Secara peribadi, saya kurang selesa dengan guru-guru yang suka membandingkan prestasi sekolah mereka dengan prestasi sekolah lain yang lebih cemerlang akademik mereka. Apakah hadirnya seseorang itu di sekolah semata-mata untuk menaikkan status sesebuah institusi persekolahan?

Guru yang terbaik pada pandangan saya ialah mereka yang benar-benar concern dengan perkembangan intelektual anak murid. Mereka mengajar untuk mematangkan fikiran remaja yang suka memberontak. Mengajar untuk menyediakan remaja bagi menghadapi dunia serba mencabar. Marah-memarah dan rotan-merotan tidak cukup untuk mengekang unsur jahat dalam diri seseorang untuk membisikkan ajakan-ajakan kemungkaran. Apa yang diperlukan ialah bimbingan daripada seorang guru yang ikhlas.

Mata pelajaran yang diajar sebenarnya tidak pernah menjadi penghalang.Guru-guru sains sudah pasti dapat menimbulkan pelbagai kesedaran kepada pelajarnya tentang hakikat-hakikat penciptaan alam yang menakjubkan. Guru Matematik pula boleh menggunakan kebolehan menganalisa secara kuantitatif dan kualititatif untuk menilai situasi anak murid dengan lebih baik. Guru Sejarah, Bahasa Melayu dan Bahasa Inggeris boleh menggunakan segala kepakaran memahami kisah hidup dan interaksi manusia sejagat untuk mengajar anak murid mereka realiti kehidupan dan persediaan untuk menghadapinya dengan baik.

Guru agama pula janganlah memandang peranan anda yang paling kurang penting di antara semua. Bahkan, guru agamalah yang bertanggung jawab memanusiakan manusia. Manusia ini tidak lebih daripada haiwan yang pandai berfikir sekiranya Tuhan tidak dikenali. Sepertimana firman Allah dalam al-Quran 7:179.

179. Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Manusia yang hidupnya tidak dipandu wahyu, akan dipandu oleh akal terbatas yang sentiasa diracun syaitan dan nafsu. Menjadi tanggung jawab guru agama untuk memastikan pelajar-pelajarnya dapat mengenal Tuhan (paling kurang).

Sahabat sekalian,

Janganlah diambil artikel ini sebagai satu hujah untuk menyalahkan guru dalam semua kegagalan remaja yang boleh kita lihat dewasa ini. Saya cuma mengimpikan suatu suasana pendidikan yang lebih baik daripada apa yang saya dapati dahulu dan sekarang.

Di kesempatan ini saya ingin mengucapkan penghargaan dan ucapan terima kasih tidak terhingga buat semua guru yang pernah mengajar saya sedari sekolah rendah sehinggalah di menara bergading ini. Anda semua punya sumbangan masing-masing ke arah menjadikan saya seorang insan, dan bukan pula seekor manusia tanpa jati diri.

[ ... ]

Monday, October 13, 2008

Lelaki Sejati

Lelaki sejati tidak tunduk pada sesuatu pun melainkan apa yang dikehendaki Tuhan.

Tidak gentar pada sebarang ciptaan.

Yang ditakuti hanya pada Yang Menciptakan.

Bukan mudah untuk hidup berdasarkan prinsip. Hanya Allah sahaja yang tahu apa yang saya dan anda semua alami setiap hari. Manis mulut kita berbicara, "Jangan diikut hawa nafsu bila bertindak, bila berbicara mahupun bila merasa." Namun, apakah itu yang kita lakukan setiap kali? Setiap hari?

Amaran sudah jelas diberikan Tuhan. Dalam surah as-Saff, Allah berbicara kepada hamba-hamba melalui Kalamnya yang bermaksud,

" Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan."

Tidak gentarkah hati kecil ini bila mendengar Tuhan berbicara yang demikian? Saya takut, tapi tidak selalunya begitu. Kadang-kadang dengan berani saya langgar! Benci kemungkaran namun diri sendiri tidak terlepas daripada melakukannya. Masih ada kekurangan yang jelas pada diri saya. Hati ini masih tidak cukup bersih.

Bilakah agaknya diri saya dapat benar-benar merasakan kehadiran Tuhan? Seolah-olah tiada yang mengawasi diri saya. Pandai berkata-kata, namun pada diri sendiri pun tidak 100% terlaksana. Seperti yang telah saya luahkan dalam entry lepas, banyak konflik yang jatuh menimpa saya. Saya rasakan sudah bertemu jawapannya. Tapi, masih tidak saya laksanakan sepenuhnya.

Prinsip Sesuci Salji, Sekental Besi

Itu yang saya inginkan. Hidup saya masih dipandu keinginan-keinginan yang mengarut. Karut yang mengaratkan seluruh ruh dan jasad. Prinsip bukan lalang yang boleh ditiup ke timur ke barat. Bukan juga air yang hanya mengalir ikut pada bekasnya. Namun ia bagaikan pasak besi yang teguh berdiri biar apa pun yang menimpa. Biar dilanggar dirempuh. Biar pecah, seribu terbelah. Biar karat bertukar sifat. Berdiri tetap berdiri. Walau tercondong sedikit, ia akan terus teguh di situ.

Itulah hidup pada prinsip. Arahan Tuhan adalah prinsip. Tiada yang lebih suci daripada prinsip yang disandarkan pada suruhan-suruhanNya. Islam bukan untuk diikut bila kita rasa mahu sahaja. Bukan untuk kita patuh pada bulan Ramadhan atau pada hari Jumaat sahaja. Tetapi perlu kita tunduk selagi mana hayat terus terkandung di dalam jasad. Biar terperosok di tengah-tengah najis dan maksiat, tapi tetap jelas amaran-amaran Tuhan dalam ingatan.

"Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui." at-Taubah:41

Saya tidak mahu jadi pengecut. Saya tidak mahu jadi manusia yang tewas kepada iblis. Lupakah kita iblis pernah meremehkan manusia. Memandang rendah dan menghina diri kita. Mari kita buktikan kepada dia, bahawa tidak salah pilihan Allah. Meletak kita sebagai pemakmur bumi ini. Bukan perosak sepertimana iblis dan kawan-kawannya.

Ya muqallibal qulub, tsabbit qulubana...

wallahua'lam

[ ... ]

Friday, October 10, 2008

Revolusi, Reformasi, Evaluasi

Selamat Hari Raya saya ucapkan buat semua pengunjung setia blog yang serba kurang ini (ade ke pengunjung setia?perasan sungguh!hehe). Maaflah andai ada tulisan saya yang pernah menyinggung anda. Segala rasa tidak puas hati harap dapat diampunkan. Sungguh, saya ingin menemui Tuhan saya dalam keadaan "Dosa Free" dan dengan "Qalb" yang "salim".

Usai Ramadhan, banyak sungguh perkara "ajaib" yang berlaku. Saya sendiri merasakannya. Maaflah sekiranya entry kali ini lebih berbentuk luahan perasaan saya terhadap perkembangan diri sendiri. Semoga anda yang membaca mendapat lebih banyak manfaat daripada saya yang menulis.

Di kala Ramadhan

Di kala Ramadhan, saya rasakan sungguh dekat dengan Tuhan. Tidur yang berjumlah tidak lebih 4-5 jam sehari saya rasakan cukup untuk memandu diri saya bergiat cergas pada siang harinya. Malam saya habiskan di surau Mt street tercinta. Sungguh indah kala itu. Tapi bukanlah bermakna tiada kecacatan pada Ramadhan saya. Bahkan, saya rasakan kecacatan-kecacatan di kala Ramadhan lah yang menyebabkan ada sebahagian unsur diri saya dicacatkan pengaruh jahat syaitan dan nafsu sehingga kini.

[selingan..lagu Araftu, dendangan Muhammad al-Husayn dan Raihan]

Saksikanlah wahai pembaca sekalian, saya berikrar mahu mengadakan revolusi untuk diri sendiri.

REFORMASI. REFORMASI. REFORMASI.

Bukan untuk politik, tetapi reformasi sikap dan isi hati yang dah dikotori. Mari evaluasi diri.

Pasca Ramadhan

Saya rasa kurang sedap hati dengan diri sendiri. Pernah pada satu masa saya bermonolog,

"Alhamdulillah, pasni boleh tidur cukup. Ramadhan dah selesai. Makan pon lagi terjaga."

Satu kenyataan yang tidak sepatutnya keluar daripada hati seorang yang telah berikrar mahu beriltizam dengan Islam. Di mana silapnya saya? Saya tidak tahu. Menjelang akhir-akhir Ramadhan, saya dibebani dengan pelbagai konflik. Rata-ratanya konflik dengan 2 unsur dalam diri. Unsur Baik VS Unsur Jahat. Keputusan persaingan antara dua unsur ini adalah seperti berikut.

Unsur Baik Unsur Jahat
Kalah Menang
Menang tipis Kalah
Kalah pukulan knockout Menang besar
Kalah teruk Menang selesa
Seri Seri
Kalah lagi... Menang mudah

Aduh, ternyata Unsur Baik saya bukanlah lawan kepada Unsur Jahat yang jauh lebih gagah. Masakan Unsur Jahat ini tidak menang kerana ia bermain tipu. Pertarungan yang berbentuk handicap match antara Unsur Baik menentang Unsur Jahat yang dibantu nafsu serta kawan baiknya syaitan berpangkat Sarjan. Di kala Ramadhan, Unsur Jahat hanya keluar bertarung bersama nafsu kerana syaitan dipenjarakan buat sementara waktu. Tetapi, masih lagi Unsur Baik saya terus tewas. Aduh sekali lagi.

Kadang-kadang saya rasa marah. Kenapa yang baik terus kalah. Kemudian datang pula konflik dari luar. Maka bertambah-tambah teruklah kekalahan yang dialami. Ya Allah! Apakah ini hukuman buatku? Konflik luaran boleh berbentuk macam-macam. Perubahan sikap kawan-kawan rapat terhadap diri saya, dinginnya hubungan dengan adik-beradik seperjuangan + seakidah saya di sini, bertambahnya gejala sosial di kalangan mereka yang saya harapkan akan bersama-sama mendukung cita-cita saya membawa pembaikan di atas muka bumi serta maksiat yang semakin berleluasa adalah sebahagian daripada konflik-konflik luaran yang saya alami.

Mencari Punca

Air mata sudah makin sukar saya terbitkan daripada pasangan mata yang saya miliki. Hati semakin keras. Terdetik sekali dua dalam hati kecil ini mahu saja saya biarkan semua orang dengan hidup mereka, dan saya hidup dengan hidup saya. Mungkin saya nak ditelan ikan Nun sepertimana Nabi Yunus A.S agaknya.. Astaghfirullah

Di kala ini bantuan terhebat muncul. Bantuan Qalil saya dan anda semua. Allah is coming to the rescue.

Tapi...

Iman saya masih lagi setipis kulit bawang. Yakinnya saya akan bantuan Allah itu sejujurnya mungkin tidak lebih dari 10%. Pertaruhan saya masih pada apa yang saya dapat nampak dan rasa. YA!! Mungkin di situlah puncanya. Tipisnya iman kepada Allah. Iman yang diletakkan pada tangga nombor dua dalam senarai priority hidup.

Dan mungkin juga pada salah tujuannya segala tindakan saya. Kenapa saya inginkan kebaikan? Kenapa saya ingin mengembangkan islam? Agar orang boleh sanjung saya sepertimana rakyat Malaysia menyanjung DSAI atau Tun? Tidak yakinkah saya akan mahalnya nilai syurga? Ataupun mungkin keyakinan saya pada pembalasan di akhirat sekadar main-main? Sungguh, benarlah. Islam hanya akan disanjung mereka yang ikhlas serta suci akidahnya walhal akidah saya masih ada kotoran-kotoran degil yang perlu saya sental mulai saat ini.

Maka bermula daripada ketika ini, saya berikrar untuk pertama-pertamanya membersihkan akidah saya biar apa pun kepayahan yang terpaksa saya alami. Mujahadah dan semoga Tuhan tolong saya. Tolonglah saya wahai Rabbal 'Alamin. Kemudian, akan saya isytihar perang habis-habisan kepada Unsur Jahat bersama kawan-kawannya yang telah lama merosakkan hati dan nurani ini. Saya berharap ini akan menjadi langkah awal yang membersihkan diri saya sebelum bertemu dengan DIA yang ESA dan dengan manusia ulung yang saya rindui (Allah dan Rasulnya S.A.W)

Wallahua'lam

[ ... ]

Sunday, September 28, 2008

Kebenaran II

[Sambungan kisah daripada entry yang lepas]

Salman merupakan pelajar yang sangat tekun kepada ketua paderi di sham. Namun, paderi tersebut seorang yang jahat. Setiap kali satu-satu majlis diadakan di gereja, paderi itu akan meminta derma daripada orang ramai dan kononnya derma itu akan digunakan utk membantu orang yang memerlukan. Padahal, paderi tersebut menggunakan harta2 yg dikumpulkan utk kepentingan diri sendiri. Bila smpai masanya paderi ini menghembuskan nafas terakhir, Salman menceritakan tentang keburukan yang dimiliki paderi ini kepada orang lain. Penganut-penganut kristian tempatan berasa sangat marah lalu mensalib paderi ini dan melontar batu ke arahnya sehingga dia mati. Kemudian, paderi ini digantikan oleh seorang ketua paderi yang lain.

Ketua paderi yang baru ini seorang yang sangat disegani ramai. Menurut Salman, paderi ini adalah antara manusia terbaik yang pernah berdamping dengannya sebelum die bertemu dengan Rasulullah dan para sahabat. Salman gembira hidup bersama paderi ini dan beliau dididik dengan sangat cermat tentang makna kehidupan seperti dikehendaki Tuhan. Masa berlalu dan paderi ini meningkat usia dan semakin tua. Salman yang bimbangkan "tarbiyah" dirinya bertanya kepada paderi seandainya ada pengganti paderi ini supaya beliau boleh meneruskan menuntut ilmu kebenaran. Paderi ini tidak dapat carikan pengganti lain untuk Salman kerana menurutnya, hanya dia seorang sahaja yang masih mengamalkan ajaran kristian sepertimana asal. Tetapi, paderi tahu seorang paderi di Mousul yang masih berpegang kepada ajaran asal Kristian. Tanpa berlengah, Salman terus berhijrah ke Mousul pula.

Di Mousul, terbukti orang yang dikatakan ketua paderi tadi adalah benar. Paderi di Mousul ini juga mengamalkan ajaran Kristian sebenar dan Salman terus mendapat tarbiyah yang baik. Masa berlalu, dan paderi ini pun sebenarnya sudah sangat tua. Salman, bertanya kepada paderi ini pula, kepada siapa beliau boleh terus dididik dengan baik. Paderi ini meminta beliau berhijrah ke Nasibin.

Salman terus dididik dengan baik dan terus berhijrah dari satu tempat ke tempat yang lain kerana di setiap tempat dia pergi, paderinya semua sudah sangat tua dan hanya menanti ajal. Dari Nasibin, beliau ke Ammuriah pula (di Turki). Di sini, Salman tinggal agak lama dan berpeluang membuka perniagaan kecil-kecilan. Keuntungan yang diperolehi akan dikumpulkan Salman untuk kegunaan masa depan. Masa berlalu dan paderi di Ammuriah itu juga berada di ambang kematian. Salman bertanya kepada siapa harus beliau pergi namun kali ini paderi di Ammuriah benar2 tidak dapat beri jawapan kerana memang sudah tiada walau seorang pun yang mengamalkan ajaran Kristian sebenar. Tetapi, paderi ini tahu akan seseorang yang dilantik oleh Allah menjadi Rasul terakhir di Jazirah Arab. Menurut paderi ini, Rasul itu akan berhijrah dari tempat asalnya ke suatu tempat di mana tumbuhnya banyak pokok kurma dan kawasan ini terletak di antara dua lembah berbatu. Rasul ini tidak akan makan barang yang diberikan padanya sebagai sedekah tetapi akan menerima barang yang diperolehinya sebagai hadiah. Di belakang badannya (di antara belakang badan dan bahu) terdapat satu tanda kenabian yang jelas.

Salman pun menurut kata paderi di Ammuriah itu lalu mencari2 pedagang arab yang singgah di Ammuriah agar dapat dia ikut untuk ke tanah Arab. Beliau berjumpa dengan sekumpulan pedagang arab dan memberikan semua harta yang dikumpulkan sebagai bayaran. Pedagang arab itu bersetuju. Malang sekali, pedagang arab itu berpaling tadah. Dia menjualkan Salman kepada seorang Yahudi semasa mereka singgah di Wadi Qura'.

Di Wadi Qura', Salman berkhidmat sebagai hamba kepada orang Yahudi ini sehinggalah pada suatu hari, tuannya didatangi sepupunya yang berasal dari Bani Qurayzhah. Yahudi Bani Qurayzhah ini berminat untuk membeli Salman lalu dibelinya dan dibawa pulang ke tempat di mana Bani Qurayzhah tinggal. Tidak lain lagi iaitu Madinah. Bila tiba di Madinah, Salman seolah-olah tahu yang di situlah tempatnya beliau akan bertemu dengan Rasul tersebut kerana sememangnya Madinah ialah kawasan di mana terdapat banyak pohon kurma dan ia diapit oleh 2 lembah berbatu.

Mencari-cari Rasulullah

Salman terus berkhidmat dengan orang Yahudi Bani Qurayzhah itu sehingga hampir terlupa tujuan asalnya mahu ke Madinah. Sehinggalah pada suatu hari, beliau terdengar satu berita tentang Muhammad yang mahu berhijrah ke Madinah dan sangat-sangat dinantikan oleh kaum Arab di Madinah itu. Mendengar berita itu, Salman bergegas mendapatkan orang yang menyampaikan cerita itu untuk memastikan apa yang didengarinya. Orang tersebut memberitahu beliau yang Muhammad berada di Quba', berehat sebentar sebelum meneruskan perjalanan ke Madinah. Tuan Salman berasa sangat marah ditumbuk dan dikurungnya Salman.

Salman tidak berputus asa. Pada malam harinya, beliau membungkus sedikit makanan dan dibawanya ke Quba secara sembunyi. Di Quba', die bertemu dengan Muhammad dan diberikan makanan yang dibawanya tadi sebagai sedekah. Muhammad mengambilnya lalu memberikan kepada para sahabat beginda. Salman gembira kerana itu merupakan antara tanda yang dikhabarkan paderi di Ammuriah kepada beliau.

Keesokan harinya, Salman membawakan makanan lagi kepada Muhammad namun kali ini diberikannya sebagai hadiah. Muhammad mengambilnya dan turut memanggil para sahabat lain untuk turut menjamu selera. Satu lagi tanda dikesan Salman.

Selang beberapa hari selepas itu, Muhammad sudah tiba di Madinah dan perlu menghadiri satu majlis pengebumian. Di majlis tersebut, Salman bertekad untuk mencari satu lagi tanda sepertimana yang dikhabarkan paderi kepadanya. Ketika Muhammad sedang duduk, Salman berlegar-legar di belakang baginda seolah-olah mencari sesuatu. Muhammad yang sedar akan hal ini seolah-olah faham apa yang dikehendaki Salman. Lalu, baginda longgarkan sedikit pakaian dan ditunjukkan tanda kenabian yang terdpat di belakang bahunya. Terbukti, insan bernama Muhammad ini benar-benar Rasulullah. Alangkah gembira Salman melihat tanda tersebut lalu memeluk Rasulullah sambil menangis. Tidak cukup dengan itu, beliau kemudian sujud pula kepada Rasulullah. Rasulullah melarangnya berbuat demikian dan menegaskan hanya Allah sahaja Tuhan yang berhak mendapat sujud manusia ciptaannya.

Semenjak hari itu, Salman menyerahkan segala jiwa dan raga untuk Allah dan rasulnya. Tiada yang lebih menggembirakan hidupnya melainkan peristiwa ini yang melengkapkan pencarian beliau kepada kebenaran hakiki. Bertemunya beliau dengan Islam bermakna bertemunya beliau dengan segala jawapan kepada persoalan yang ada padanya sebagai seorang manusia.

Wallahua'lam

[ ... ]

Saturday, September 6, 2008

Manusia dan unsur-unsurnya

Tiada kata yang dapat menggambarkan perasaan saya diberi peluang menikmati ramadhan kali ini. Setiap kali ramadhan, Allah mengurniakan pada saya suatu kurniaan yang mahal harganya. Allah curahkan buat hamba ini perasaan ingin merenung kembali hakikat hidup yang serba kompleks, serba celaru.

Hidup manusia yang semakin pantas disibukkan oleh urusan-urusan material membuatkan kita mengabaikan tanggungjawab pada ruh. Kita seakan-akan melupakan elemen kita yang satu itu. Sekadar peringatan buat semua, secara kasar manusia punyai 4 elemen yang membentuknya:

  1. Tubuh fizikal
  2. Ruh
  3. Akal
  4. Hati

Selama ini, hanya tubuh fizikal dan akal yang mendapat perhatian kita. Segala kudrat kita curahkan demi memastikan kedua-dua elemen ini sempurna perkembangannya. Tetapi, bagaimana pula dengan ruh dan hati? Sedangkan ruh dan hatilah yang memberi maksud kepada kehidupan manusia di dunia. Tanpa keduanya, manusia seolah-olah hidup tanpa tujuan, mati tiada penilaian. Maka terus-menerus manusia rakus mengejar apa yang ada di dunia kerna beranggapan bahawa hidup sekadar terbatas pada 60 - 70 tahun usia dan kemudiannya diakhiri noktah tanpa sambungan.

Sekiranya manusia gagal merenung akan perihal ini, saya bimbang semakin ramai yang akan menjauhi Tuhannya. Semakin ramai pula yang tertekan hidupnya. Maka tidak hairanlah, semakin tidak bahagia hayat ini jadinya. Hidup manusia hanya akan bahagia bila ia dijalani kena dengan tujuannya.

Secara umum, untuk yang muslim atau bukan sekalipun, hidup tanpa penghayatan ruhiyah boleh menyebabkan seseorang itu berada dalam kekosongan yang berpanjangan. Mahatma Gandhi contohnya, pernah mengakui bahawa hampir-hampir sahaja beliau gila tatkala sibuk melengkapkan agenda memerdekakan India jika tiada agama yang menyokong unsur ruhiy miliknya.

Program Pengisian Rohani

Umat Islam, umat bertuah. Bukan sahaja menerima janji-janji Allah untuk kebahagian akhirat, malahan turut menerima kebahagiaan dunia. Islam sungguh mementingkan penyucian ruh sepertimana firman Allah dalam surah at-Taubah: 108

Di dalamnya masjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.

Program pengisian rohani disusun dengan cantik oleh Allah. Program sedemikian mengambil tempat secara harian, mingguan dan tahunan.

Harian, umat Islam difardhukan solat 5 waktu bagi membolehkan jiwa-jiwa manusia dibersihkan setelah mengharungi hidup yang terkandung pelbagai kekotoran.

Mingguan pula, Allah menghadiahkan solat Jumaat buat kita. Di dalamnya terhimpun pelbagai amalan fardhu dan sunat. Sekiranya manusia ikhlas menghayati satu demi satu amalan tersebut, sudah pasti ruhnya semakin mendekati Tuhan.

Tahunan pula, Allah mengurniakan bulan Ramadhan yang penuh barakah. Segala kebaikan terkumpul di sini. Hadirnya bulan ini seumpama suatu peluang yang besar diberikan pada manusia. Secara ringkas, antara kebaikan yang telah Allah janjikan buat mereka yang ikhlas mengharungi Ramadhan ialah:

  1. Keampunan Allah untuk segala dosa yang lalu.
  2. Membebaskan manusia dari api neraka.
  3. Doa termakbul.
  4. Kurniaan berupa "surprise" yang dijanjikan Allah di akhirat kelak.
  5. Malam lailatul-Qadr
  6. Mendapat keredhaan Allah.

Saya pasti, anda biasa dengan kelebihan2 ramadhan yang telah saya senaraikan. Tetapi sejauh mana kita mengambil serius akan kewujudannya? Mereka yang tidak yakin akan janji Allah seumpama mereka yang sangsi dengan kekuasaan Allah. Inilah penyakit utama umat Islam alaf baru, iaitu bila akidahnya sudah tidak sesuci yang Allah inginkan. Mari menuju salimul 'aqidah (kesejahteraan akidah) di ramadhan kali ini.

Wallahua'lam

[ ... ]

Sunday, August 17, 2008

Jangan Manja

Geli-geleman sebahagian kita bila mendengar ada mana-mana lelaki dewasa yang bersifat "manja". Salahkah bersikap manja? Sebahagian manusia merasakan sikap ini hanya rasional kepada kanak-kanak sahaja. Saya juga berpendapat demikian. Sebagai anak lelaki paling tua dalam keluarga, saya sendiri rasa kurang selesa dengan sikap ini. Namun, saya tidak nafikan, sifat ini turut membawa kesan positif kepada kita.

Ada yang mungkin mahu pertahankan bahawa sikap manja kadang-kadang perlu bagi mewujudkan rasa kasih dalam institusi keluarga. Benar, tetapi ada batasnya. Ada batasnya bagi seorang ibu yang memanjakan anaknya. Ada batasnya bagi seorang suami yang memanjakan isterinya. Lebih tinggi batasnya bagi individu yang memanjakan dirinya sendiri!

Jangan manjakan diri sendiri

Mereka yang cenderung untuk memanjakan diri sendiri adalah mereka yang lemah. Tiada pengecualian dalam hal ini. Bagaimana keadaannya seseorang itu memanjakan diri sendiri?

  1. Malas
  2. Takut kesusahan. Hanya inginkan kesenangan.
  3. Tidak mahu berubah ke arah lebih baik. Selesa dengan apa yang ada sekarang.
  4. Perlu sentiasa rasa cukup dan puas.
  5. Bila menilai, untuk kitalah bahagian yang lebih besar.

Perhatian! Pandanglah setiap satu perkara yang disenaraikan di atas melalui lensa akhirat, kecuali untuk perkara 4 dan 5. Kedua-dua perkara itu saya merujuk secara langsung kepada worldly possessions. InsyaAllah, saya akan perincikan perkara 4 secara ringkas dalam entry ini.

Perlu sentiasa rasa cukup dan puas (makan)

Menjadi fitrah, apabila makan kita mahu kenyang. Apabila minum, biar hingga hilang hausnya. Apabila tidur, biar cukup 8 jam sehari. Tiada yang haramnya dengan makan, minum dan tidur sehingga puas. Tetapi, akibat terlalu "mencukupkan" ini, menyebabkan kita menjadi lemah. Inilah salah satu sindrom manusia yang memanjakan diri sendiri.

Sejarah telah membuktikan, manusia yang cemerlang di atas muka bumi ini ialah mereka yang kurang makan, minum dan tidurnya. Bahkan, Rasulullah sendiri pernah mengatakan bahawa

"Bejana (bekas) yang paling buruk pernah diisi oleh seorang anak adam ialah perutnya!" [at-Tirmidzi]

Siapakah anak adam? Kitalah tu!!

Di dalam kitab al-Muqaddimah, Ibn Khaldun telah mengelaskan dunia ini kepada 7 bahagian yang berbeza. Di antara ketujuh-tujuh bahagian itu, ada zon yang subur tanah serta keadaan sekelilingnya, ada zon yang kering dan panas secara ekstrim, dan ada pula yang sangat sejuk.

Menurut Ibn Khaldun, mereka yang tinggal di kawasan yang subur serta terdapat banyak sumber makanan, cenderung untuk menjadi orang yang gemuk dan kurang cerdas. Golongan ini juga agak malas kerana mereka tidak perlu berusaha keras untuk mendapatkan makanan. Oleh sebab tidak perlu banyak berusaha, mereka lebih banyak tidur dan suka dengan hidup yang selesa. Golongan ini lemah fizikal dan mental. Seandainya diuji oleh Allah dengan kemarau atau putus bekalan makanan, mereka dijangka hanya mampu berikhtiar utk terus hidup bagi suatu jangka masa yang pendek. Inilah mereka yang banyak memanjakan diri sendiri.

Mereka yang tinggal di kawasan yang kurang subur pula mempunyai sumber makanan yang terhad. Ada antara mereka yang hanya hidup dengan susu dan sayuran. Mereka juga biasa berada dalam keadaan kelaparan dan perlu berusaha keras untuk mendapatkan makanan yang sekadar cukup untuk hidup. Golongan ini dikatakan boleh bertahan dengan lebih lama sekiranya diuji dengan kelaparan. Ibn Khaldun menyatakan bahawa mereka ini lebih sihat tubuh dan lebih bijak akal fikiran. Inilah mereka yang TIDAK memanjakan diri.

Kesimpulannya, manusia yang tidak bertindak memanjakan diri pada sudut mencukupkan makanannya adalah lebih sihat dan bijak. Buat akhirnya, mari kita renungi kata-kata Saidina Umar al-Khattab R.A

"Jalanlah berkaki ayam"

Kata-kata di atas bermaksud menyeru manusia supaya sekali-sekala kita perlu bersedia untuk hidup dalam keadaan yang tidak selesa. Semoga ada permata berharga yang dapat saya hadiahkan melalui hasil tulisan ini.

[ ... ]

Thursday, March 6, 2008

KOMPLEKS

assalamualaikum

Sahabat pembaca sekalian,
Kebiasaannya, manusia hanya akan meyakini sesuatu setelah "sesuatu" itu menjadi kebiasaan bagi dirinya. Bagaimana pula untuk sesuatu yang tidak pernah dilihat, dirasai atau didengarinya? Sebagai contoh, anda mungkin boleh membayangkan warna merah atau kuning sebagai sesuatu yang panas kerana matahari atau api melambangkan kepanasan dengan warna masing2 yang merah kekuning-kuningan. Tetapi, bolehkan anda bayangkan bunyi yang hijau? Atau warna yang merdu? Tidak masuk akal bukan? Namun percayakah anda sekiranya saya katakan bunyi yang hijau atau warna yang merdu itu boleh berlaku?

Sebenarnya, sebagai manusia kita punyai deria yang sangat terbatas. Saya suka untuk merujuk kepada tulisan sheikh Ali al-Tantawi yang menyatakan bahawa deria manusia sgt terbatas sehinggakan apa yang kita lihat, dengar, rasa, hidu dan sentuh merupakan sebahagian kecil sahaja daripada elemen dunia yang serba kaya.

Namun, kebijaksanaan manusia "mencipta" atau lebih tepat "memanipulasi hukum alam" membolehkan mereka menggarap sesuatu yang sedikit lebih jauh daripada apa yang dicapai oleh deria sahaja. Sebagai contoh, Penciptaan telefon membolehkan deria pendengaran dan suara kita merentas benua. Penciptaan itu masih jauh daripada membolehkan manusia untuk berinteraksi sepenuhnya dengan alam ini. Kita masih tidak boleh berhubung dengan tumbuhan. Walaupun manusia kini berupaya mengeluarkan arahan pada haiwan yang sudah dilatih sedari kecil, namun kita masih belum mampu menyelami apa yang bermain di otak haiwan tersebut. Malahan, manusia sukar memahami apa yang difikirkan oleh manusia lain pun, lebih-lebih lagi orang yang tidak pernah kita tegur dan kita sapa. Apabila bercakap mengenai fikiran dan emosi manusia, satu perkataan cukup untuk menggambarkannya iaitu KOMPLEKS.

KOMPLEKS juga merupakan perkataan paling tepat untuk menggambarkan apa yang telah, akan dan sedang berlaku dalam pilihan raya. Ia tidak semudah kita, ke tempat mengundi kemudian memangkah calon yang sudah kita pilih. Keseluruhan proses pilihan raya sangat kompleks sehingga boleh menyebabkan kesatuan atau perpecahan, kesetiaan atau pengkhianatan, pujian atau makian dan lain-lain lagi.

Apa yang menyebabkan saya kurang selesa dengan suasana kempen pilihan raya ialah bila pemimpin yang sama-sama warganegara Malaysia, malahan sama-sama muslim menyelar satu sama lain. Menimbulkan bibit permusuhan lalu menyuarakan bahawa mereka mampu membawa keamanan sejati. Sarkastik sungguh bukan?

Idealnya, seorang pemimpin yang membawa mesej keharmonian sejagat, sepatutnya mengamalkan mesej itu walaupun dengan pesaing di medan pilihan raya. Atau mungkin apa yang saya cadangkan ini tidak masuk akal kerana saya hanya mampu menganalisa kes2 kompleks lalu mengeluarkan penyelesaian yang simplistik sahaja? Ya, saya mungkin tidak memahami dengan mendalam apa yang berlaku. Namun, segala yang baik itu adalah jelas. Yang jahat juga jelas. Apa yang kabur, saya hanya perlu tinggalkan sahaja. Hadis Rasulullah menyebut:

"Sesungguhnya perkara yang halal itu terang jelas, perkara yang haram juga terang jelas..."


All in all, pemuda seharusnya mula mengambil inisiatif untuk manjadi seorang yang lebih prihatin terhadap apa yang berlaku di Malaysia. Terlalu banyak masalah namun percayalah, tiada masalah terlalu besar sehingga kita tidak dapat mencari penyelesaiannya. Umat Islam seharusnya tahu, di mana boleh dicarikan jalan penyelesaian itu.

Saya tinggalkan anda di sini dahulu untuk merenungkan semua yang telah saya lontarkan.

wallahua'lam

[ ... ]

Tuesday, March 4, 2008

Tidak akan sama..

assalamualaikum.




Syukur padaNya kerana diberikan kudrat pada saya untuk kembali menulis dengan lebih giat. Namun, terdapat banyak perkara yang membuatkan saya terhenti menulis buat sekian lama semasa cuti musim panas yang lepas.

Sahabat pembaca,
Mungkin segelintir di kalangan anda mula perasan bahawa saya bukanlah seorang penulis yang gemar mengulas tentang isu semasa yang berlaku baik di Malaysia, New Zealand atau di mana sahaja sekalipun. Saya masih mengikuti setiap perkembangan namun semakin jauh saya hanyut dalam isu semasa, semakin saya tenggelam dalam kepalsuan hidup manusia.

Kini, pasti perkara yang paling hangat sedang dibincangkan ialah berkenaan pilihan raya. Saya sudah berusia 23 tahun mulai hari ini dan sudah layak mengundi sedari dua tahun lepas lagi. Namun mungkin bukan rezki saya untuk melakukannya pada tahun ini kerana masih tidak tamat-tamat lagi pengajian di Auckland sehinggalah hari ini.

Pemilihan kepimpinan perlu dilakukan melalui pemerhatian terperinci dan menyeluruh. Dan pemerhatian sedemikian bukan semua mampu lakukan, lebih-lebih lagi apabila maklumat yang kita garap penuh kepalsuan dan sentiasa berat kepada satu belah pihak sahaja. Media yang pro-kerajaan akan terus-menerus menghentam pembangkang manakala yang sebaliknya juga berlaku kepada media yang pro-pembangkang. SAYA PERLUKAN SESUATU YANG TULUS! TETAPI DI MANA BOLEH SAYA CARI?? Ini menyebabkan saya kurang yakin akan keberkesanan sistem demokrasi di Malaysia. Namun, dalam jangkamasa terdekat ini, sistem demokrasi itu sahaja yang terbukti keberkesanannya.

Cukup di situ berkenaan pilihan raya. Ingin saya kembali membawa pembaca kepada objektif pembikinan blog ini iaitu membawa mesej umum kepada masyarakat tentang hakikat kehidupan yang sebenar. Saya juga salah seorang daripada mereka yang masih mencari-cari hakikatnya. Kita sama-sama tahu dunia ini palsu, sementara, dicipta sebagai ujian dan seterusnya. Namun tahu tidak sama maksudnya dengan faham. Sangat mudah untuk TAHU, tapi sangat sukar untuk FAHAM.

Ini mengingatkan saya kepada suatu buku karangan Syeikh Ali al-Tantawi bertajuk "Hakikat Islam yang Semestinya Difahami". Satu fenomena menarik yang dikupas oleh beliau ialah, manusia pada hakikatnya tidak dapat membayangkan apa yang akan berlaku pada kehidupan yang berikutnya (akhirat sudah pasti). Bayangkan bayi yang berada di dalam kandungan, sudah pasti hanya dapat membayangkan kehidupannya berdasarkan apa yang dapat dicapai pancainderanya pada masa itu sahaja.

Jika ditakdirkan Allah mengurniakan akal kepada bayi tersebut, dia pasti membayangkan dirinya apabila lahir ke dunia nanti akan menjalani kehidupan sepertimana dirinya di dalam janin. Begitu jugalah kita di dunia ini. Kita hanya dapat membayangkan akhirat relatif kepada apa yang kita lalui di dunia sedangkan keduanya tidak menyamai sama sekali.

Cukup sekadar itu dahulu buat renungan kita bersama. Ingatlah wahai sahabat sekalian, "Dunia ini, tak seindah pandangan mu. Namun cukup, untuk kau jadikan bekal membawa kepada kebahagiaan di sana nanti"

Selamat kembali ke sekolah khas buat kawan-kawan di Auckland.
[ ... ]

Saturday, November 17, 2007

percutian suatu kerehatan atau ...




assalamualaikum.

Sekadar pemberitahuan, insyaAllah saya akan pulang bercuti ke Malaysia pada hari ini sehingga ke penghujung bulan februari. Tidak sabar melihat apa yang telah berlaku pada tanah air. Peristiwa-peristiwa yang berlaku pada negara minggu ini dan minggu lepas membuat saya tertanya-tanya apakah sudah ada langkah perubahan ke arah yang lebih baik dilakukan oleh pihak-pihak tertentu.

Saya pulang dengan 1001 harapan. Mahu melihat keadaan yang lebih baik. Jika masih di takuk lama atau masih tiada apa-apa perubahan signifikan yang berlaku, maka saya sendiri perlu sedar bahawasanya ada suatu tugas yang besar perlu dilaksanakan segera oleh saya dan anda semua.

Kepada sahabat-sahabat yang berada di Malaysia, semoga kita bertemu di sana.

Kepada sahabat-sahabat yang masih tinggal di NZ, jagalah diri anda baik-baik. Doakanlah untuk kejayaan kita bersama.

Perdengarkan sebuah ceramah ringkas yang disampaikan oleh seorang imam yang mahsyur di US. Semoga anda semua dapat mengambil sesuatu daripadanya..

wassalam...
[ ... ]

Friday, October 26, 2007

Ujian... Perjalanan Hidup



Aku yg masih diperjalanan hidup ini
Begitu lama berlegar dipersimpangan dunia
Menempuh jarak dan titian,rimba dan lautan
Mencari sesuatu yg abadi


Aku yg masih diperhentian hidup ini
Begitu jauh mengembara ke serata dunia
Mengejar siang dan malam,surut dan pasang
Mencari sesuatu kebebasan
Mencari sesuatu kedamaian


Dimana berakhirnya perjalanan ku ini
Esok dan lusa bukan milikku oh tuhanku
Lindungilah hamba mu yg hina ini
Aku setia hanya padamu oh tuhanku


Aku setia hanya padamu
Aku setia hanya padamu

_______________________________

Di kala musim peperiksaan ini, saya tidak mahu melepaskan peluang mengucapkan selamat berjuang dan semoga berjaya buat rakan-rakan di seluruh pelusuk dunia yang sedang mendudukinya di pusat pengajian masing-masing. Di Auckland, bahangnya mula dirasakan semenjak semalam lagi.


Memasuki tempoh peperiksaan membuat saya rasa seolah-olah sedang memasuki suatu dimensi atau alam yang sungguh asing daripada biasa. Tidak seperti hari-hari lain, semua orang seolah-olah menjadikan buku dan nota kawan paling akrab mereka. Akan dibawa kemana-mana, walau ke tandas sekalipun. Masa yang digunakan, kalau tidak untuk menelaah, maka setiap saat yang berlalu dianggap sia-sia belaka. Tetapi, saya berharap kepada kalian yang sudah membaca sehingga ke perenggan ini, untuk meluangkan barang 10-20 minit masa anda membaca apa yang cuba saya sampaikan. Semoga bermanfaat buat semua


Para pembaca budiman,

Peperiksaan merupakan suatu lumrah. Suatu sistem yang diperkenalkan bagi menilai dan mengkelaskan pelajar-pelajar mengikut tahap kemampuan masing-masing. Ia dilihat sebagai sistem terbaik untuk mencari bakat, intelektual, dan kebolehan manusia yang terpendam. Namun, kelemahannya yang jelas ialah peperiksaan menilai manusia pada keputusan akhir. Keputusan yang dipengaruhi 1001 faktor. Tidak kira berapa keras sekalipun anda berusaha, keputusan peperiksaan anda pasti terganggu jika berlaku perkara-perkara berikut:


  1. Tidak sihat pada hari peperiksaan.
  2. Tertidur kerana terlalu mengantuk dan penat mengulang kaji.
  3. Semua pen anda kehabisan dakwat.
  4. Bunyi-bunyi bising di luar dewan peperiksaan yang tidak dapat dielakkan.
  5. Tertinggal kalkulator dan pengawas peperiksaan anda pula tiada "kalkulator kecemasan".
  6. dan sebagainya


Dan jelas, faktor-faktor tadi tidak boleh menjadi alasan untuk anda kemukakan pada pemeriksa bahawa anda dapat melakukan lebih baik sekiranya tidak terjadi perkara-perkara yang tidak diingini. Usaha anda tidak sedikitpun diambil kira. Tiada siapa yang menilai berapa lama seseorang itu membaca buku lalu memberikan markah tambahan bagi setiap jam yang diluangkan.


Sahabat pembaca,

Bukan saya bermaksud mengeluarkan hujah-hujah untuk cuba memansuhkan sistem peperiksaan ini. Namun ia membawa saya kepada analisa tentang kehidupan kita pula. Mungkin ada antara anda yang mual membaca saya menulis tentang kehidupan. Tidak puaskah saya bercerita tentangnya? Apa lagi yang tidak cukup dengan hidup ini? Kehidupan saya sudah sangat idealkah sehingga mahu menasihati orang lain?

Jawapan untuk segala persoalan tadi ialah tidak sama sekali. Saya bercerita tentang kehidupan kerana saya sayangkan anda semua. Saya mahu kita sama-sama berjaya. Kehidupan adalah suatu hikmah yang perlu kita terokai. Ia tidak direka untuk manusia hidup dengan gaya stereotaip. Kehidupan itu sendiri suatu ujian. Suatu peperiksaan yang mahu atau tidak, setiap kita harus menempuhinya. Namun siapakah yang menguji kita? Apakah keputusan yang perlu anda dan saya perolehi untuk menjamin kita berjaya with flying colours? Tiada formula khas yang dapat dikeluarkan manusia untuk menentukan seseorang berjaya dalam hidup. Apa yang saya maksudkan ialah, tiada siapa dapat menjamin kehidupan anda cukup indah bila...

  1. Anda menjadi orang terkaya di dunia
  2. Anda punyai isteri paling cantik atau suami paling kacak di dunia
  3. Anda merupakan selebriti terkemuka masa kini
  4. Anda punyai anak-anak yang cantik dan sayangkan anda
  5. dan banyak lagi

Itulah yang menjadi perhatian sosial bila menyebut tentang berjayanya si fulan atau si fulan dalam hidup masing-masing. Berani saya katakan di sini, mana-mana jiwa yang telah perolehi setiap perkara yang saya senaraikan di atas ini, masih tidak menemui kejayaan hakiki suatu ujian bernama kehidupan. Kejayaan dalam kehidupan hanya ditentukan oleh penciptaNya sahaja. Sama seperti dalam peperiksaan, tiada siapa yang layak mengeluarkan skema jawapan dan memberi autoriti kepada pemeriksa-pemeriksa memberi markah kepada skrip-skrip jawapan yang telah dihasilkan oleh pelajar melainkan pensyarah atau guru atau badan yang mengeluarkan soalan peperiksaan tersebut. Mereka yang menghadapi peperiksaan sudah tentu lebih tidak layak lagi.


Begitu jugalah dengan kehidupan. Manusia tidak layak menentukan kejayaan sesama manusia. Tidak layak manusia memberi penilaian kepada kehidupan manusia lain. Hanya Tuhan selayaknya memberi penilaian. Untuk lulus dengan cemerlang, maka perlu anda patuhi apa yang perlu diperbuat dalam kehidupan. Dan ini membawa saya kepada satu lagi persoalan, berkenaan bagaimana kita perlakukan dengan kehidupan kita.


Sepertimana dalam lagu yang saya sertakan dalam entry ini, kehidupan itu suatu yang perlu dicari. Cara manusia menempuhnya berlainan antara satu sama lain. Kita sering mendengar ungkapan "melihat dunia dari mata burung atau dari dalam tempurung". Hasil daripada pembacaan yang terbatas, beberapa penulis terkenal seperti 'Aaidh ibn Abdullah al Qarni, Stephen R Covey dan Dr. Phil menegaskan bahawa kebanyakan insan hidup di dunia atas dasar tindak balas. Kehidupan yang mana suatu tindakan hanya diambil apabila terjadinya sesuatu perkara. Sebagai contoh, kita akan mengulangkaji hanya bila tahu adanya peperiksaan. Kita ke hospital, hanya bila sudah jatuh sakit. Itu hanya elemen-elemen kecil yang membentuk suatu kehidupan yang luas. Bahkan, tidak keterlaluan andai saya mengatakan, kita seolah-olah tidak hidup sekiranya tiada peristiwa-peristiwa tertentu yang menyebabkan kita bertindak. Kehidupan inilah yang kita kenali sebagai hidup tanpa arah tuju. Hidup hanya untuk makan, minum dan tidur sahaja. Hidup tanpa ada tujuan untuk hidup. Tiada misi, tiada visi. Nasib baik masih ada visa, pasport atau kad pengenalan.


Sahabat sekalian,
Andai kita masih terus seperti itu, maka tidak ke manalah kehidupan kita dapat ditujukan. Jadilah anda pelajar sebijak mana pun, jadilah anda ahli sukan sehandal mana pun, jadilah anda pemimpin sekaliber mana pun, jadilah anda pengurus seterurus mana pun atau jadilah anda sesiapa sahaja sekalipun... Seandainya hidup anda hanyalah hasil daripada tindak balas anda terhadap rantaian perisitiwa yang berlaku dalam hidup, maka anda masih memandang dunia dari dalam tempurung. Mungkin masih boleh mengecapi kekayaan, masih boleh kecapi kemahsyuran tetapi adakah itu layak kita kenali sebagai kejayaan?


Maka, kita sepatutnya keluar daripada kepompong kehidupan yang sempit ini kepada suatu pengertian yang lebih luas. Kehidupan yang anda rancangkan untuk diri sendiri. Kehidupan bermisi, bervisi, berwawasan dan bermatlamat. Namun,perlu diingat misi yang kita letak dalam hidup juga penting dalam menentukannya berguna atau tidak.


Design your life forward from your very inside. Do not just have a life that reacts upon circumstances.


Letakkan misi anda untuk berjaya sepertimana yang telah ditetapkan oleh Tuhan pemilik kehidupan ini. Hanya Dia yang akan menentukan sama ada daripada kehidupan kita, mendapat A+ yang membolehkan kita dimasukkan ke dalam syurgaNya atau sekadar mengakhiri kehidupan dengan keputusan D-, yang hanya melayakkan kita ke nerakaNya. Istimewanya Allah ialah, kejayaan kita dalam peperiksaan hidup ditentukan pada usaha dan niat. Bukan pada hasilnya dalam kehidupan itu sendiri. Bukan senang untuk hidup. Tetapi janganlah sampai kita tertipu dengan kehidupan.

Menjadi seorang muslim, hidup anda tidak cukup sekadar atas tikar sejadah sahaja. Tidak lengkap kehidupan anda hanya setelah melunaskan kelima-lima tuntutan rukun Islam. Tidak menjamin anda syurga andai hidup anda hanya untuk dihabiskan di masjid. Seorang muslim perlu punyai matlamat yang lebih besar daripada itu semua.


Sebelum mengakhiri, ingin saya kembali mengajak sahabat-sahabat pembaca merenung kembali 19,20, 25 atau 30 tahun kehidupan kita. Mari sama-sama keluar daripada perangkap kehidupan atas dasar tindak balas. Mari mulakan kehidupan baru. Memulakan suatu yang lebih bermakna. Ini memerlukan usaha dan tawakal kerana tidak semudah itu mengecapi nilai hidup yang sebenar.


Tulisan saya ini tidak cukup untuk memandu anda semua ke arah mencapai erti hidup sebenar. Oleh itu, saya mencadangkan anda memperbanyakkan membaca al-Quran dan membaca 2 buah buku yang alhamdulillah, dapat mengubah paradigma saya sendiri pada kehidupan. Buku-buku tersebut adalah:

  1. Don't Be Sad oleh 'Aaidh ibn Abdullah al-Qarni

  2. 7 habits of highly effective people oleh Stephen R Covey.

Impian saya, moga akan lahir suatu hari nanti satu generasi sehebat generasi para sahabat. Generasi yang sentiasa menasihati kearah kebaikan dan melarang kejahatan. Generasi yang punyai wawasan lebih jauh daripada jaraknya bumi ke matahari. Saya yakin, kita boleh. Namun, pada Pemilik jiwa ini jugalah terletak segala keputusan, segala ketentuan.


Wallahua'lam


"Ke arah melahirkan pemuda-pemudi sehebat generasi para sahabat"
[ ... ]

Friday, September 14, 2007

Kesedaran Ramadhan 1

Assalamualaikum

Sambil membacakan entry kali ini, saya hidangkan anda semua sebuah lagi koleksi lagu ramadhan yang saya ada. Semoga merancakkan lagi usaha kita dalam mengejar limpahan rahmat Tuhan di bulan penuh keberkatan ini.



Hari ini, maka bermulalah hari pertama puasa bagi rakan-rakan di seluruh New Zealand. Oleh yang demikian, marilah sama-sama kita panjatkan syukur buat yang ke sekian kalinya kerana masih ditemukan dengan Ramadhan. Adakah kita benar-benar bersedia menyambut kedatangan bulan kemuliaan ini?

Sahabat sekalian,
Bagi kebanyakan kita, Ramadhan ini sekadar satu bulan di mana makan dan minum tidak dibenarkan pada siang hari manakala kita akan bersama-sama menunaikan solat sunat tarawih pada malamnya pula. Saya ingin rakan-rakan mengambil sedikit masa ini untuk kembali merenungkan, adakah itu sahaja tujuan Allah mengurniakan kita dengan Ramadhan?

Setiap kali berjalan ke universiti, saya sering terfikir, apakah benar saya tergolong di kalangan orang yang beruntung? Apa lagi yang saya inginkan? Makan, pakai, tidur semuanya cukup. Masih tidak beruntungkah? Untuk menunjukkan betapa beruntungnya kita, mari tonton sebuah klip pendek.



Sahabat sekalian,
Janganlah kita terkeliru dengan perkataan beruntung itu sendiri. Perlu kita sama-sama ingat bahawasanya Allah itu Maha Adil. Bukanlah kanak-kanak di Afrika, Palestin, Indonesia mahupun di mana-mana sahaja meminta untuk hidup susah. Bahkan, jika mahu dibandingkan usaha mereka untuk hidup, jauh lebih tinggi berbanding kita sendiri. Tinggalnya mereka dalam khemah-khemah, keperluan asas yang terpaksa dicatu dan kesihatan yang tidak menentu antara ujian mereka hanya untuk meneruskan kehidupan. Pada mereka, dunia ini tidak lebih dari suatu tempat mereka mengharung kepayahan hanya untuk meneruskan nyawa yang dikandung badan.

Kita pula lain ceritanya. Kita mengeluh bila baju yang dipakai kotor terkena minyak makanan. Mengeluh bila sedikit terlewat menerima biasiswa. Mengeluh bila makanan yang kita terima, kurang sedikit daripada orang lain. Mengeluh bila makanan yang ada di NZ tidak sesedap apa yang ada di Malaysia. Alangkah remehnya perkara yang kita keluhkan.

Adanya Ramadhan membolehkan kita sama-sama merasakan kesusahan sahabat-sahabat lain itu. Jika benar kita menghayati ramadhan, saya pasti kita dapat membentuk suatu peribadi yang mulia.

Pernahkah kita memikirkan, apa hikmahnya Allah menjadikan perbezaan taraf hidup manusia sejagat? Pernahkah kita fikir, mengapa agaknya kita dibiarkan hidup senang, manakala ada orang lain di suatu tempah beribu batu dari sini yang sedang menderita?

Sahabat sekalian,
Cuba bayangkan satu situasi.
Pada suatu hari, seorang rakan anda menerima sebuah panggilan telefon daripada salah jurujual terkemuka tanah air. Mari ikuti perbualan mereka:

penjual : Assalamualaikum. Selamat pagi encik.

sahabat : Waalaikumussalam. selamat pagi kembali. Encik cari siapa?

penjual : oh, saya sebenarnya dari sebuah syarikat kenderaan terkemuka, Proton.

sahabat : Proton?!!? Ada apa-apa yang tidak kena dengan saya ke encik? Saya tak pernah kutuk2 proton encik.

penjual : Encik jangan bimbang. Proton yang kini sudah melancarkan kereta terbarunya sedang mengadakan promosi hebat. Dan encik adalah salah seorang yang bertuah untuk menerima tawaran promosi ini.

sahabat : iyeke? (dengan muka berseri-seri dan senyum lebar sehingga mencecah telinga)

penjual : dengan promosi ini, encik boleh membeli sebuah kereta proton Perdana dengan harga RM 100 sahaja!

tiba-tiba talian terputus....

sahabat : hello.. hello.. encik..encik..

sahabat terus meletak telefon...

sahabat : aduh, melepas peluang aku nak dapat kereta tu dengan harga yang gilerr punya murah

Bayangkan anda berada di tempat sahabat anda itu. Adakah anda akan mempercayai tawaran sehebat itu? Jika tawaran itu memang benar-benar ada, adakah anda pasti anda akan dibiarkan untuk membeli kereta itu dengan harga yang murah gilerr tanpa perlu melakukan apa-apa selepas itu?

Sahabat sekalian,
Fikirkanlah, apakah kesenangan yang kita nikmati ini diberikan dengan tanpa ada apa-apa tujuan? Sekali lagi ingin saya ingatkan, Allah itu Maha Adil. Pasti ada hikmahnya manusia diciptakan dalam keadaan sebahagiannya senang, sebahagiannya lagi susah. Saya berharap para pembaca sekalian fikirkanlah apa mesej yang cuba saya sampaikan dalam entry kali ini.

Salah dan silap harap dimaafi. Bersamalah kita menjalani ibadah puasa dengan sempurna.

Ke arah memanfaatkan Ramadhan dengan lebik baik...

[ ... ]

Sunday, July 8, 2007

Dari mana hendak ke mana?

Assalamualaikum

Setelah sekian lama pemilik blog ini menyepi, kini muncul kembali bagi meneruskan tugas menyampaikan peringatan untuk diri sendiri dan kepada khalayak pembaca yang lain. Kita telah melalui perbincangan dalam pelbagai aspek di dalam blog ini. Saya sentiasa berdoa agar matlamat saya untuk bersama-sama sahabat pembaca yang lain ke arah pembentukan diri yang lebih baik tercapai dengan izinNya.

Dari mana hendak ke mana? Saya amat berharap sahabat pembaca mendapat sedikit input daripada hasil tulisan saya yang tidak seberapa berkenaan menginsafi kejadian kita dalam 2 entry sebelum ini. Input itu kini, perlu kita cernakan dalam amalan hidup seharian. Bercerita tentang hidup seharian, saya selalu terfikir mengapa kebanyakan manusia (termasuk saya sendiri) tidak dapat menggunakan masa 24 jam yang kita ada dengan sebaiknya. Sedangkan, hayat kita sebenarnya sangatlah pendek. Kita tidak tahu pun sebenarnya sampai bila hayat masih diberi izin dikandung badan. Oleh itu, bukankah lebih baik andai kita dapat menggunakan hari-hari yang kita lalui dengan penuh manfaat?

Teringat saya pada suatu kisah berkenaan para sahabat yang telah mendahului kita dengan kehidupan yang penuh jaya. Pada suatu hari, seorang sahabat Rasulullah pergi berjumpa dengan Saidina Umar bagi mendengar perihal bagaimana beliau menjalani kehidupan setiap hari. Maka berkata Umar,

"Apabila aku hidup di pagi hari, aku tidak mengharap akan hidup sampai ke petang".

Seterusnya sahabat tersebut berlalu dan menuju ke arah Saidina Abu Bakar pula bagi menanyakan perihal yang sama yang ditanyakan pada Saidina Umar. Berkata Abu Bakar,

"Apabila aku menghela satu nafas, aku tidak berharap untuk menghela nafas yang seterusnya".

Kita pula bagaimana? Bukan sahaja yakin akan hidup seharian, malah meletakkan angan-angan yang panjangnya menjangkau puluhan tahun pula. Tidak salah meletakkan angan-angan, namun biarlah kene pada tempatnya. Kalaulah angan-angan kita sekadar mahukan kereta dan rumah yang lebih besar, maka akan sia-sialah kehidupan kita. Ada orang kata, angan-angan adalah permulaan kepada setiap cita-cita. Tetapi, masalah kita sekarang, angan-angan itu tidak membawa kita kemana-mana pun. Marilah kita sama-sama mengambil mutiara Rasulullah dan para sahabat.

Kehidupan yang berjaya hanya berlaku bila kita meletakkan matlamat jangka masa panjang yang melibatkan pembangunan manusia walaupun setelah kita tiada lagi. Itulah yang dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat sehingga tersebarnya islam ke serata pelosok dunia. Taburkanlah usaha ke arah membawa pembaikan kepada kehidupan manusia sejagat. Walau kesan yang kita tinggalkan tidaklah seberapa, namun itulah bekalan kita pada hari di mana semua umat manusia akan mengetahui pengakhiran masing-masing.


Sahabat pembaca, sejarah telah membuktikan bahawa manusia sentiasa mencari suatu sistem yang membawa kepada pembangunan manusia dan ketamadunan. Namun, hampir semua sistem yang dicipta manusia akan hanya membawa keuntungan kepada pihak-pihak tertentu sahaja. Yang lain pula, akan dibinasakan, dihenyak, ditindas dan dirosakkan! Lahir islam, menunjukkan yang sebaliknya. Islam mampu membawa ketamadunan manusia di samping memberi keadilan kepada setiap makhluk yang hidup melata di atas muka bumi. Maka dengan itu, jelaslah bahawa lahirnya kita dari Allah. Allah pula telah menetapkan islam sebagai cara hidup. Dan berpandukan islam, maka kepada Allah jugalah kita akan kembali dengan jayanya.

Sebentar tadi, kita telah sama-sama perhatikan bagaimana para sahabat tidak meletakkan harapan yang tinggi untuk hidup lama. Implikasi kepada hal yang demikian ialah mereka akan berusaha mencapai matlamat pembinaan sahsiah diri dan pembentukan kehidupan dan ketamadunan manusia dengan habis upaya pada hari yang mereka sedang lalui. Sudah tentu, usaha yang dicurahkan adalah sangat besar memandangkan masing-masing mahu menyediakan diri sebelum bertemu dengan Pemilik Hari Pembalasan kelak.

Sebelum mengakhiri entry kali ini, marilah sama-sama kita hayati kata-kata Saidina Ali,

"Tidak ada kebaikan ibadah yang tidak ada ilmunya dan tidak ada kebaikan ilmu yang tidak difahami dan tidak ada kebaikan bacaan kalau tidak ada perhatian untuknya."

Wallahua'lam

Ke arah menjana pemikiran belia kritis dan pelaksanaan berkesan.






[ ... ]

Saturday, June 16, 2007

Hebatkah Manusia Revisited...

Assalamualaikum..

Sahabat sekalian, sebagai salah seorang dari ribuan juta manusia yang masih diberi kesempatan menghirup udara segar pemberian Yang Maha Pengasih ini, membuat saya rasa terpanggil untuk menyambung hasil tulisan mengenai seni ciptaan manusia. Sepertimana yang saya sebut dalam entry yang lepas, kehidupan manusia ini mudah hanya kerana dimudahkan oleh Penciptanya. Sistem tubuh manusia yang sungguh kompleks ini, tidak salah jika saya katakan, mustahil ada seorang manusia pun yang mampu mengawalnya dengan sempurna menggunakan akal mereka yang sedar. Oleh itu, maka layakkah manusia berasa bongkak sekiranya mereka menyedari bahawa sebenarnya mereka tidak dapat menguasai sepenuhnya walaupun tubuh mereka sendiri. Wallahua'lam.

Jika sebelum ini, saya banyak menyentuh mengenai apa yang ada dalam tubuh manusia, kali ini, dengan izinNya saya akan menceritakan barang sedikit berkenaan bagaimana tubuh kita berinteraksi dengan alam sekeliling.

Sahabat sekalian, orang kata, untuk mempelajari suatu ilmu dengan lebih berkesan, tidak cukup dengan sekadar kita membaca sahaja. Pembacaan jika disusuli dengan amalan atau perbuatan, akan membuahkan suatu dapatan yang lebih berkesan. Untuk itu, saya ingin mengajak kalian bersama-sama saya berhenti seketika daripada melakukan apa sahaja yang kalian sedang lakukan. Tarik nafas dalam-dalam, dan cuba hargai setiap sedutan udara yang anda ambil itu. Lontarkan pula pandangan anda pada tubuh yang diselaputi kulit. Betapa cantik ciptaan kulit itu yang bertujuan bukan sekadar menutupi organ2 yang sungguh kompleks di dalamnya, malahan mengandungi jutaan reseptor dan bulu roma yang punyai tugas masing-masing. Dongakkan pula pandangan, buka tirai kamar, dan hayatilah pemandangan di luar sana. Apakah setiap perkara yang wujud di sekeliling kita itu, tiada gunanya? Atau sebenarnya, setiap zarah...(ya, saya maksudkan zarah yang kecil tu...) wujud di alam sekeliling ini semata-mata untuk berbakti kepada manusia?
Ingin saya bawa anda, sama-sama menyingkap dengan penuh penghayatan suatu kalimah yang diturunkan oleh Allah, dalam kitabNya; surah al-Baqarah:30

"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."

Seterusnya, firman Allah dalam surah an-Naml:62

"Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi"

Berdasarkan pada 2 kalimah di atas, saya pasti kini, atau mungkin lama sebelum ini kalian pembaca sedar akan peranan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Menjadi khalifah bermakna menjadi ketua atau pemimpin di muka bumi. Menjadi khalifah tidak semestinya anda perlu menjadi seorang yang mampu menguasai segala-galanya. Berdasarkan pembacaan saya yang tidak seberapa, khalifah juga bermaksud seseorang yang memakmurkan sesuatu. Maka ini lebih tepat dan bersesuaian dengan kita semua yang sudah semestinya dalam pelbagai sudut dan segi, mampu menyumbangkan sesuatu untuk kemakmuran dunia. Namun, entry kali ini tidak bermaksud menyentuh mengenai peranan atau methodologi ke arah memakmurkan dunia. Saya lebih suka untuk membawa diri saya dan kalian pembaca sekalian menumpukan fikiran kita ke arah mengenali kejadian jasad dan roh yang mengalir subur di dalamnya.

Kembali kepada firman Yang Maha Pengasih dalam surah an-Naml di atas, membawa suatu peringatan yang sungguh penting untuk kita sama-sama hayati. Sepertimana yang telah dibincangkan, sesungguhnya kemudahan yang kita kecapi dalam kehidupan hanya diperolehi atas rahmatNya yang mahu memudahkan kehidupan kita. Janganlah kita menyempitkan definisi "menghilangkan kesusahan" dalam ayat di atas hanya pada situasi kita dihindarkan daripada musibah. Renungkanlah, setiap saat pada kehidupan kita ini sebenarnya telah dimudahkan olehNya. Sesungguhnya, saya benar-benar tidak mampu memberikan gambaran yang terbaik berkenaan bagaimana pemurahnya Tuhan yang menciptakan ini.

Sahabat sekalian, alam atau suasana di mana kita hidup kini telah diciptakan khas buat saya dan anda semua. Kajilah pada setiap sudut kejadian di dunia ini, pasti anda akan mendapati bahawasanya kita diletakkan dalam dunia yang mempunyai suhu, kandungan udara, tekanan, air, cahaya dan lain-lain sumber yang sangat sesuai untuk manusia serta makhluk dunia lain yang sama-sama hidup di dalamnya.

Jika sebentar tadi anda telah menghayati hirupan udara dengan penuh syukur, apakah anda sedar bahawa sebenarnya kita hidup dalam lautan udara? Namun lautan ini tidak melemaskan malahan tanpanya, kita akan lemas. Rasanya, kalian tidak memerlukan pada fakta dari mana-mana sumber untuk menyedari yang manusia tidak mampu hidup walau untuk beberapa minit tanpa udara ini. Itulah hakikatnya. Tapi, kita sering terlupa akan besarnya nikmat ini, kerana sering taking it for granted. Cuba tutup hidung dan mulut anda untuk beberapa minit, dan saya pasti dengan cara ini, kita dapat meletakkan nilai kelebihan udara itu pada tempat yang lebih tinggi.

Udara yang padanya terdapat komposisi pelbagai jenis gas berlainan ini punyai banyak lagi tujuan lain ia diciptakan. Antara lain, lautan udara ini memberikan tekanan pada tubuh kita untuk tujuan keseimbangan. Keseimbangan di sini bermaksud imbangan tekanan cecair dalam badan. Anda semua pasti pernah pada suatu ketika mempelajari subjek sains yang menghuraikan bagaimana keadaan cecair berubah apabila tekanan udara berubah. Tekanan yang turun atau naik, boleh mengubah suhu dan isipadu cecair yang padanya dikenakan perubahan tekanan tersebut. Tekanan yang tidak sesuai pada tubuh boleh menyebabkan saluran darah yang terdapat di segenap tubuh anda pecah terburai....

Melontarkan pandangan di luar sana, pasti anda sedar akan langit yang diciptakan berlapis-lapis. Setiap lapisan memainkan peranan masing-masing dalam membantu manusia hidup di dunia ini. Pada setiap lapisan, kelajuan udara yang bergerak di dalamnya juga berlainan. Pergerakan udara di mana kita berada di dalamnya ini amatlah tenang. Berada sedikit di atas, kelajuan udaranya jauh lebih deras berbanding pada permukaan bumi. Seandainya lapisan ini tidak disusun sekemasnya, anda sendiri boleh membayangkan bagaimana kucar-kacir keadaannya. Berdasarkan fakta-fakta sahih, udara yang bertiup 5 batu di atas paras laut boleh mencapai kelajuan 200 batu sejam. Ribut, angin taufan, typhoon dan sebagainya yang diklasifikasikan manusia sebagai bencana alam yang dahsyat pada hakikatnya hanya mencapai kelajuan 75 batu sejam. Sahabat pembaca sekalian, tiada manusia atau apa jenis kehidupan sekalipun yang mampu hidup apabila ditiup oleh udara selaju 200 batu sejam itu walaupun untuk satu tempoh yang singkat.


Sedikit peringatan ini semoga dapat menyedarkan kita, betapa lemahnya manusia. Setiap saat pada kehidupan ini perlu kita syukuri dan gunakan sebaiknya. Terlalu banyak kelebihan yang telah diberikan kepada kita, dengan tujuan kita dapat hidup di atas muka bumi ini, dan melaksanakan tanggungjawab masing-masing sebagai hamba kepada Yang Maha Pencipta.

Keadaan kita ini tidak ubah seperti seorang pekerja dengan majikannya. Bagi membolehkan seorang pekerja melaksanakan tugasan dengan baik, majikan akan menyediakan pekerjanya itu dengan pelbagai kemudahan. Gaji yang lumayan, kereta, insurans, perlindungan kesihatan, bonus dan sebagainya. Dengan tersedianya semua kemudahan tadi, sudah tentu majikan mahukan pekerjanya mencapai yang terbaik. Pekerja yang baik, sudah pasti akan menyumbangkan segala keringat, kemahiran dan kebijaksanaan yang ada bagi memenuhi prestasi kerja yang telah ditetapkan oleh majikannya. Majikan pula sudah pasti bertambah sayangnya pada majikan ini dan terus mengurniakannya dengan bermacam lagi kemudahan.

Sekarang, bayangkan pula seorang pekerja lain yang malas, sombong, kurang bijak dan berlagak lebih besar daripada majikannya sendiri. Kerja-kerja yang diberi tidak pernah diselesaikan, sering pula melakukan perkara yang tidak disukai oleh majikannya, namun masih menggunakan dan mahukan lebih banyak daripada segala insentif yang sudahpun dikecapi. Lebih teruk lagi, pekerja ini tidak mengiktiraf pula majikan ini. Malangnya si majikan, sering diumpat, difitnah dan dihina pula. Jika anda menjadi majikan kepada pekerja ini, apa agaknya yang akan anda lakukan padanya?

Fikirkanlah sahabat sekalian. Fenomena rekaan tadi hanya berhubung seorang pekerja dan majikannya. Apa sangatlah nilai kelebihan yang diberikan oleh majikan itu jika hendak dibandingkan apa yang telah dikurniakan Pencipta setiap diri kita ini. Namun, masihkah kita mahu berasa bongkak dan tidak mahu melaksanakan segala suruhanNya dan meninggalkan segala laranganNya? Setiap kelebihan itu, datang hanyalah daripadaNya. Mulakanlah hidup kita selepas ini dengan penuh rasa syukur dan rendah diri. Bagi mengakhiri tulisan kali ini, saya sisipkan suatu video yang cukup memberi makna pada diri ini. Semoga ia turut memberi manfaat pada anda semua...




p/s: saya mengalu-alukan anda berkongsi semua hasil tulisan saya yang tidak seberapa ini kepada sahabat-sahabat lain seandainya anda mendapati ia baik untuk semua. Saya hanyalah manusia kerdil yang masih merangkak namun berkeinginan menyambung perjuangan mereka yang terdahulu...



[ ... ]
 

©2009 Makna Hidup | by TNB